oleh

Perpeloncoan Maba Cukup Sampai di Sini!

-Opini-13 views

Siapa yang tidak bangga ketika setelah lulus dari SMA/SMK dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Apalagi jika mengetahui namanya tercantum dalam daftar nama-nama yang diterima di perguruan tinggi yang didambakan. Rasa haru sekaligus momen yang membanggakan bagi dirinya maupun kedua orangtuanya ketika mengetahui anaknya kini menyandang status mahasiswa. Mahasiswa selalu disebut-sebut sebagai agent of change, kaum intelektual dan terpelajar dengan pemikirannya yang terbuka, idealis dan kritis.

Selepas dinyatakan diterima oleh perguruan tinggi, para mahasiswa baru wajib mengikuti kegiatan masa orientasi mahasiswa atau yang kini dikenal dengan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Masa orientasi mahasiswa ini bertujuan untuk mengenalkan budaya akademik dan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru sebelum memulai perkuliahan.

Mirisnya ketika pelaksanaan kegiatan pengenalan kampus, mahasiswa baru langsung disesaki dengan kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan atau tidak mengarah kepada nilai-nilai pendidikan, justru dijadikan sebagai ajang perpeloncoan senior kepada juniornya. Kegiatan ini masih saja subur bahkan dianggap sebagai tradisi penyambutan mahasiswa baru di beberapa kampus saat tiba masa Ospek.

Dengan memasang raut wajah yang sangar dan memperlihatkan sikap tegas dan kasar, para senior yang mengaku sebagai panitia Ospek bisa melakukan apa saja yang diinginkannya kepada juniornya dan tak tanggung-tanggung memberikan syarat yang wajib dipenuhi mahasiswa baru (baca: maba). Jika terdapat mahasiswa baru yang tidak memenuhi persyaratan yang diminta senior, maka berbagai hukuman baik itu fisik maupun psikis siap mendera mereka (Maba) yang dianggap melanggar aturan.

Persyaratan Ospek yang dibebankan senior kepada juniornya (baca : maba) terbilang cukup kreatif hingga fantastis. Ada yang diminta untuk membuat papan nama dengan berbahan koran, karton, atau kardus; membuat tutup kepala dari bahan bekas; disuruh membeli makanan dan minuman dengan perintah menjawab teka-teki, hingga mewajibkan membeli busana maupun kerudung (baca : Maba perempuan) dengan bahan yang telah ditentukan senior dengan biaya yang juga dibebankan kepada mahasiswa baru.

Menapaki kemelut yang terjadi bahkan telah dilakukan turun-temurun yang menimpa mahasiswa baru di masa pengenalan kampus dirasa kurang efektif dan tidak relevan dalam program pengenalan budaya akademik. Masa orientasi mahasiswa baru yang seharusnya diisi dengan kegiatan yang bernilai pendidikan justru diselewengi oleh seniornya dengan kegiatan yang tidak menunjukkan nilai-nilai moral dan pribadi mahasiswa. Beberapa di antaranya bahkan menganggap Ospek ini sebagai ajang kesenangan senior semata, pem-bully-an, atau balas dendam senior ketika dulunya menjadi mahasiswa baru, kini melampiaskan hal yang sama dilakukan senior sebelumnya kepada mahasiswa baru yang sekarang menjadi juniornya. Ini menggambarkan betapa bobroknya moral dan elitism di kalangan akademisi yang berdampak pada semakin suburnya sikap hedonis dan konsumtif dalam jiwa mahasiswa.

Dalam buku “Catatan Seorang Demonstran”  yang merupakan buku catatan harian Soe Hok Gie atau lebih dikenal dengan panggilan Gie, Alumni Universitas Indonesia, sewaktu Gie menjadi mahasiswa baru di Universitas Indonesia, ia pernah mendapatkan perlakuan yang buruk dari seniornya ketika masa Ospek. Dalam buku hariannya, ia mencurahkan isi hatinya ketika menjadi mahasiswa baru.

“Ketika baru diplonco kami dibentak-bentak, ditendang tas kami dan dimaki-maki. Baru-baru terpikir olehku, apa guna semua ini? Di mana kadang-kadang manusia disuruh menjadi binatang.”

Kata-kata tersebut diungkapkan oleh Soe Hok Gie pada Jumat, 20 Oktober 1961 ketika ia menjadi mahasiswa baru di Universitas Indonesia dalam buku harianya yang kemudian diterbitkan dengan judul “Catatan Seorang Demonstran”.

Pernahkah terlintas di pikiran, bagaimana perasaan orang tua dari mahasiswa baru tersebut jika mengetahui anaknya dipermainkan bahkan disiksa selama Ospek berlangsung? Mereka yang telah menaruh harapan dan amanah dengan menitipkan dan merelakan anaknya menjadi mahasiswa (baru) di kampus tersebut, justru dibuat khawatir dan geram akan kondisi anaknya yang diperlakukan tidak baik oleh seniornya. Senior yang seharusnya memberikan contoh baik kepada juniornya, malah sebaliknya dengan jalan perpeloncoan tadi secara tidak langsung telah mengajarkan kepada junior untuk melakukan hal yang serupa ketika musim Ospek tiba.

Dilansir dari merdeka.com, sejarah tradisi Ospek di perguruan tinggi di Indonesia dimulai sekitar tahun 1950-an. Namun ada versi lain yang menyebutkan, Ospek sendiri sudah ada sejak zaman kolonial dulu, tepatnya di STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Kemudian terus berlanjut pada masa Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942). Sekarang STOVIA dan GHS menjadi FK UI Salemba.

Bagaimana pun kisah asal muasal Ospek di perguruan tinggi, pada intinya Ospek harus memberikan dampak positif bagi mahasiswa baru. Memperkenalkan dan mengajarkan budaya akademik yang kritis, analisis, serta objektif kepada mahasiswa baru dengan berlandaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat.

Betapa semrawutnya wajah pengenalan kampus terhadap mahasiswa baru. Pengenalan kampus yang seharusnya diisi dengan kegiatan yang mendidik dan menyenangkan justru disalahgunakan oleh pihak yang merasa berkuasa dalam kegiatan ospek. Mahasiswa yang selalu disebut dengan agen perubahan dan generasi penerus bangsa sejatinya dapat memberikan contoh, solusi, hingga pengaruh yang baik terhadap lingkungan di sekitarnya, bukan menjadi penambah beban masalah atau meneruskan budaya buruk di lingkungannya.

Kegiatan perpeloncoan yang diselipkan pada narasi pengenalan kehidupan kampus atau ospek sudah semestinya harus diakhiri. Segala kefanatikan senior yang mengenyampingkan nilai-nilai moral dan pengajaran dalam meng-ospek mahasiswa baru harus dihentikan. Kalau perlu diubah konsep penyambutannya ke arah yang lebih terbuka dan bersahabat. Pemangku kebijakan kampus memiliki peran dan wajib ikut serta dalam mengawasi dan mengawal jalannya ospek mahasiswa baru. Ini semua demi perbaikan diri yang mengarah kepada peningkatan mutu. Baik secara kualitas intelektual, ataupun dari segi karakter mahasiswa yang dihasilkan.

Ahmad Yudi S
Mahasiswa Prodi S-1 Kesehatan Masyarakat STIKes Respati Tasikmalaya;
Founder Pers Mahasiswa Rekamrest.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed