oleh

Melahirkan Pahlawan Bangsa

-Opini-17 views

Anugerah Tuhan

Indonesia merdeka merupakan anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa, tidak lepas dari usaha pahlawan bangsa, mereka mengorbankan segalanya, hanya untuk mewujudkan Indonesia berdaulat, terbebas dari imperialisme dan kolonialisme, sebuah tujuan mulia, yang nyawa menjadi taruhannya. Negara ini memiliki karakteristik unik, di mana memiliki 1340 suku bangsa (netralnews.com, 2017) jumlah yang fantastis dalam satu negara, harus dipandang sebagai kelebihan bahkan kekuatan untuk mengguncangkan dunia.

Pendiri bangsa menginginkan negara yang mampu mempersatukan semua golongan, menjadi tempat warganya tumbuh dan berkembang, bahkan tempat akhir menutup mata, maka tersiratlah tujuan negara bahagia. Hutannya menyimpan kekayaan, lautnya menyimpan kemakmuran, manusianya pembawa harapan, inilah Indonesia yang selalu membuat cemburu dunia, negara ini terletak di antara Benua Australia dan Asia, serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik (blog.ruangguru.com, 2017), sehingga wajar iklim tropis identik dengan Indonesia, mengakibatkan negara ini  kaya akan flora dan fauna.

Indonesia adalah bukti kebesaran Tuhan yang Maha Esa, bagaikan miniatur surga yang diciptakan di dunia, saking indahnya membuat sektor pariwisata menyumbang devisa Indonesia pada tahun 2016 sebesar 11,3 miliar dollar AS (Kompas.com, 2017). Angka tersebut bukan main, walau masih kalah dari negera tetangga, tapi patut kita syukuri, tidak salah jika Ismail Marzuki menciptakan lagu Indonesia Pusaka, yang salah satu liriknya adalah, “Karya indah Tuhan maha Kuasa, bagi bangsa yang memujanya”.

Jarang ditemukan negara yang memiliki ciri khas unik ini, jumlah suku bangsa yang fantastis, flora dan fauna yang beragam, keindahan alam yang menakjubkan, inilah Indonesia yang harus dikelola secara bijaksana. dengan potensi tersebut, seharusnya mampu mewujudkan kehidupan sosial politik Indonesia yang sejahtera, makmur dan adil, berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.

Energi yang Terbuang
Agustus merupakan bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, setelah sekian lama, Indonesia mampu mewujudkan kemerdekaanya. Di bulan Agustus 2018 ini lebih terasa spesial, karena sebelum memperingati HUT RI Ke-73, pada tanggal 11 Agustus 2018 telah resmi dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, yaitu pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin lalu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Detik.com, 2018), dipastikan terjadi rematch pada Pilpres 2019 ini. Perbedaan yang mencolok terletak pada pilihan Wakil Presiden, dan jumlah partai pendukung masing-masing calon.

Aroma sengitnya Pilpres 2019 mulai terasa, bahkan sebelum penetapan dari KPU RI. Jika tidak ada halangan, penetapan tersebut akan dilaksanakan pada 20 September 2018 (Kompas.com, 2018). Layaknya medan perang, elit politik dan relawan, terus menggulirkan narasi kemenangan, perubahan bahkan menjanjikan kesejahteraan, saling sindirpun tidak dapat terelakan. Hari ini pemilihan umum selalu menjadi menu utama yang menghiasi berita televisi, karena katanya Pemilihan Umum baik Pilpres, Pileg maupun Pilkada akan menentukan nasib hidup orang banyak, yang menariknya peran Ulama dalam pelaksanaan pemilu meningkat tajam, baik klaim ulama sana dan ulama sini.

Energi bangsa dihabiskan karena saling sindir, bahkan mengarah pada fitnah, baik fitnah sana maupun sini, menimbulkan polarisasi politik yang kuat dalam masyarakat, netizen sejati pasti paham akan julukan cebong dan kampret, lalu mengerti kamus nyinyir politik yang makin viral setelah pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Narasi #2019GantiPresiden lalu #2019TetapJokowi menghiasi jagad media sosial Indonesia, yang tujuan utamanya untuk menggaet hati pengguna media sosial, agar memilih pasangan yang didukungnya.

Disayangkan apabila Pemilihan Umum yang merupakan pesta demokrasi tahunan juga sebagai media pendidikan politik masyarakat, disalahgunakan yang akhirnya hanya menghasilkan masyarakat pencaci yang berjiwa munafik. Saling menghardik tidak akan menghasilkan kontestasi politik yang sehat, sebaliknya hanya kegaduhan yang ditimbulkan. Proses demokrasipun menjadi sakit. Idealnya kontestasi politik itu mengadu program, berbicara gagasan, dan arah Indonesia ke depan. Inilah realitas Indonesia saat ini. Politisi jangan buta hati. Terlalu mahal Indonesia dijual hanya demi kepentingan hasrat politik pribadi.

Harapan muncul seusai Timnas U-16 menjuarai Piala AFF 2018. Layaknya kemerdekaan, momen tersebut sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia, karena sudah lama Indonesia tidak merasakan gelar juara dari cabang olahraga sepak bola. Timnas U-16 yang notabenenya masih remaja, disambut bak pahlawan oleh masyarakat Indonesia, karena mampu mengobati kerinduan mereka tentang narasi Indonesia juara. Wajar apabila masyarakat memiliki ekspektasi yang lebih pada mereka pada saat dewasa nanti, apakah mampu mengangkat harkat dan martabat negara melalui sepak bola.

Selebrasi Indonesia juara seolah melupakan ramainya perbincangan seputar pendaftaran calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Diibaratkan harta, mereka merupakan berlian yang ditemukan  di tengah gumpalan lumpur yang pekat. Mungkin masyarakat mulai jenuh dengan intrik politik politisi yang selalu menimbulkan ketidakpastian dan kadang hanya kemunafikan. Bukan politisi jika segala perilakunya tidak menimbulkan maksud politik, atau pesan-pesan politik tertentu. Oleh karenanya mereka diikuti oleh para simpatisan untuk menyebarkan pesan politik tersebut, seolah tidak ada habisnya, energi bangsa ini habis oleh perang identitas yang tidak produktif.

Demi mencapai kekuasaan segala cara dihalalkan, bahkan persatuan dan kesatuan menjadi taruhan. Esensi politik yang hilang, negeri terjebak di tengah perang identitas. Menghambat upaya mewujudkan kesejahteraan umum. kesenjangan sosial semakin melebar, dan konflikpun tidak bisa terelakan. Layaknya lingkaran setan, tidak ada habisnya, hanya menghasilkan bangsa yang putus asa. Entah sampai kapan, terus menjamur seperti lumut, membenarkan kebiasaan, lupa kebiasaan belum tentu benar, konflik nilailah yang terjadi.

Melahirkan Pahlawan Bangsa
Di tengah musim politik yang tidak menentu, dan cenderung panceklik negarawan, pemuda Indonesia membuat harapan. Di tengah kejemuan mereka menciptakan sejarah, terlebih sejarah tersebut dituliskan di bulan kemerdekaan Indonesia yang Ke-73. Sebuah kado yang manis, di tengah musim yang kritis. Bangsa ini merdeka dengan usaha bersama, tanpa memperhatikan perbedaan, semangat itulah yang harus tetap dijaga, dan ditularkan kepada generasi penerus bangsa, wajar apabila menimbulkan riak, akibat konflik politik, sebagai ajang pendewasaan, namun salah apabila larut dan menjadi pesakitan.

Negeri ini minim negarawan, menjamur politisi, maka kepentingan yang dibawapun adalah kepentingan politik, tidak sedikit elit politik yang mereduksi kepentingan mereka adalah kepentingan rakyat. Politik harus menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang peka terhadap kehidupan sosial bangsanya, sehingga mereka berjuang murni dalam upaya mempercepat terwujudnya kesejahteraan umum dalam masyarakat. Bukan mereka yang berjuang demi mendapat kekuasaan, semua harus sadar jabatan mandataris hanya bersifat sementara dan berupa titipan, lalu jika disalahgunakan hanya akan menghasilkan sebuah kerugian.

Politisi harus menyampaikan pesan-pesan kebaikan, dan optimisme mengenai pembangunan Indonesia ke depan, bukan pesan permusuhan, itu bertentangan dengan cita-cita bangsa, mungkin benar potongan puisi dari K. H. Mustofa Bisri, “Di sana banyak orang lupa, dibuai kepentingan dunia, tempat bertarung merebut kuasa, sampai entah kapan akhirnya”. Bangsa yang mulai lupa mengenai nikmatnya memperbanyak saudara. Ini realita jika politisi peka, tidak akan memperkeruh suasana.

Pahlawan tidak dilahirkan secara kebetulan, mereka berproses dan berkorban karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, jika politisi berkorban demi mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan melawan ketidakadilan, mereka akan disambut layaknya pahlawan, Indonesia merindukan sosok seperti itu, yang mampu mengguncangkan dunia. Bukan memperbanyak meme di jagad sosial media, terlepas dari apapun latar belakangnya, negeri ini jenuh jika terus dipertontonkan perang identitas, lembaga negara, partai politik dan yang lainnya harus mampu melahirkan pahlawan bangsa, kunci penting semua harus bekerja sama mewujudkan negeri Indonesia yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur, itulah pahlawan sejati.

Agil Nanggala
Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed