8 Perbedaan Kulihan Zaman Now dengan Generasi 1964 dan 1980

8 Perbedaan Kulihan Zaman Now dengan Generasi 1964 dan 1980
Lulus Kuliah (Foto: Shutterstock)

Generasi milenial menghadapi banyak perbedaan di dunia perkuliahan dibandingkan dengan zamannya orangtua dahulu. Sekarang generasi milenial membutuhkan pengeluaran lebih besar, juga berbeda dalam hal aktivitas organisasi kampus ataupun keadaan tempat kerja nantinya.

Meski pengeluaran tidak sedikit, tapi generasi milenial hampir mempunyai pilihan pekerjaan yang fleksibel dan bisa menikmati manfaat sosial media. Generasi milenial juga memiliki pengalaman kuliah yang berbeda dari baby boomer (generasi yang lahir pada tahun 1946 hingga 1964) dan Gen X (generasi yang lahir tahun 1960 hingga 1980).

Perbedaan signifikan kedua generasi tersebut yang paling terkenal, adalah biaya kuliah meningkat sejak tahun 1980-an. Terdapat beberapa perbedaan baik dan buruk di antaranya, misalnya sekarang ini lebih berpikir kemajuan teknologi, peningkatan keragaman, dan lebih banyak tekanan dan persaingan.



Faktanya, lebih banyak generasi milenial yang kuliah daripada generasi sebelumnya. Menurut Pew Research Center, jumlah orang dewasa muda berpendidikan perguruan tinggi dengan gelar sarjana masih pada titik tertinggi -40% dari pekerja milenial berusia 25 hingga 29 memiliki gelar sarjana pada tahun 2016, dibandingkan dengan 32% dari Gen X di tahun 2000 dan 26% baby boomer pada tahun 1985.

Tetapi generasi milenial kuliah di lingkungan yang berbeda dari kedua generasi tersebut, mulai dari harga buku kuliah perguruan tinggi hingga peluang pembelajaran secara online. Inilah perbedaan kuliah bagi generasi milenial dari pada generasi sebelumnya yang dilansir dari Businessinsider, Senin (24/9/2018).

1. Lebih Banyak Mahasiswa yang Kuliah

“Permintaan untuk pendidikan tinggi telah meningkat secara dramatis sejak 1985,” ujar Richard Vedder, penulis dan profesor ekonomi emeritus di Ohio University.

NBC News sebelumnya menyampaikan bahwa pendaftaran sarjana di AS telah meningkat dua kali lipat dari tahun 1970 hingga 2009. Dan, menurut Departemen Pendidikan, perguruan tinggi AS memperkirakan jumlah total berkisar 20,4 juta siswa pada musim gugur tahun 2017 dan hanya sekitar 5,1 juta lebih dari pada musim gugur tahun 2000.

“Imbalan untuk kuliah telah berkembang dan tumbuh dari tahun 1985 menjadi sedikit. Setelah itu tahun 2000 dan banyak yang mendatar pada dekade terakhir,” kata Vedder.

2. Perguruan Tinggi Lebih Kompetitif

Perguruan tinggi sekarang ini lebih selektif menerima calon mahasiswa, sehingga banyak mahasiswa yang mendaftar ke perguruan tinggi, lebih sulit untuk masuk. Pada tahun 1988, tingkat penerimaan mahasiswa di Universitas Columbia adalah 65% per tahun 2014, itu 7%, menurut US News & World Report. Demikian juga, tingkat penerimaan mahasiswa Universitas Michigan turun dari 52% menjadi 33% dalam periode waktu yang sama.




Tapi Jacoba Urist of The Atlantic mengatakan bahwa bisa jadi benar dan tidak benar tentang mitos penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi yang semakin sulit setiap tahunnya. “Ternyata, masuk ke perguruan tinggi sebenarnya tidak sulit dari satu dekade yang lalu. Hanya saja peluang masuk ke perguruan tinggimu sekarang mungkin telah menurun,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Apapun masalahnya, fakta menunjukkan bahwa tingkat penerimaan mahasiswa perguruan tinggi saat ini sedang menurun.

3. Perguruan Tinggi Lebih Mahal

Uang kuliah telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1980-an. Dari akhir 1980-an hingga tahun sekolah 2017-2018, biaya sarjana (S1) naik sebesar 213% di kuliah umum yang disesuaikan dengan inflasi.

Saat itu, biaya kuliah tahunan rata-rata untuk kuliah umum hanya USD1.490, atau sebesar USD3,190 dalam dolar hari ini, dibandingkan dengan harga kuliah tahun ini sebesar USD9.970, menurut Student Loan Hero.



Bayaran kuliah kampus swasta mengalami peningkatan biaya dalam periode 129% ketika disesuaikan dengan inflasi. Pada akhir 1980-an, biayanya USD7,050, atau sebesar USD15.160 dalam dolar hari ini, untuk gelar sarjana. Hari ini, biaya rata-rata adalah USD34.740.

4. Buku Kuliah Perguruan Tinggi Juga Mahal

Seiring dengan biaya perkuliahan kampus negeri dan swasta, harga buku kuliah telah meningkat, laporan The Huffington Post, mengutip Kantor Akuntabilitas Pemerintah.

Dibandingkan 30 tahun yang lalu, sekarang mereka sekitar 812% lebih mahal. Satu buku teks dapat berharga hingga USD300, dan rata-rata mahasiswa menghabiskan lebih dari USD1.200 untuk buku kuliah setiap tahunnya.

Akibatnya hal tersebut, kampus menginisiatif untuk membeli buku e-book (buku elektronik) dan terus meningkat sepanjang tahun sehingga mahasiswa dapat menghemat sebanyak USD1,42 miliar secara kolektif per tahun. Itu bukanlah sebuah pilihan yang dimiliki orangtua pada saat itu.

5. Perguruan Tinggi Hari Ini Lebih Maju Secara Teknologi

Generasi milenial perguruan tinggi sekarang ini memiliki manfaat teknologi yang lebih besar daripada orangtua mereka sebelum lahirnya Internet. Perangkat seluler seperti smartphone dan laptop mendominasi ruang kelas, tetapi hal tersebut juga dapat mengalihkan perhatian mahasiswa dari pelajaran.

Mahasiswa sekarang dapat menerima kuliah melalui PowerPoint jika mereka ketinggalan materi dikelas, dan banyak universitas menawarkan akses seperti itu kepada kepala fakultas, menurut NBC News.



Alih-alih mesin ketik atau desktop komputer, mahasiswa sekarang kini memiliki laptop yang dapat mereka bawa ke kelas untuk mencatat, bukan lagi kuliah tulisan tangan di buku catatan. Mereka juga dapat menilai profesor mereka secara online dan menggunakan media sosial untuk tetap berhubungan dengan teman sekelasnya.

6. Lebih Banyak Siswa Belajar Online

Dengan kemajuan teknologi seperti itu, semakin banyak mahasiswa yang mendaftar di sistem online, hal tersebut merupakan pilihan bagi mahasiswa yang tidak punya cukup waktu untuk datang ke kampus.

Pendaftaran sistem online meningkat di antara musim gugur 2015 dan 2016 pada tahun sekolah lebih dari yang terjadi dalam tiga tahun terakhir. Dilaporkan US News & World Report, mengutip Babson Survey Research Group. Perguruan tinggi negeri dan universitas melihat peningkatan 7% dalam pertumbuhan.



Business Insider sebelumnya melaporkan pada survei yang mengungkapkan 69% dari generasi milenial berpikir mereka belajar lebih baik dari teknologi daripada dari orang-orang (dosen yang mengajar dikelas), dan hanya 50% responden yang lebih tua dari 45 orang merasakan hal yang sama.

7. Populasi Mahasiswa Lebih Beragam

Populasi siswa di perguruan tinggi telah berkembang secara demografi sejak tahun 1970. Menurut proyek penelitian Mahasiswa Negara 2018 (2018 State of the Student research project) yang dilakukan oleh perusahaan teknologi pendidikan Chegg, yang mengambil sampel lebih dari 1.000 mahasiswa di AS, pendaftaran minoritas saat ini adalah 42%, kontras tajam dari 15 % pada tahun 1970.

Saat ini, mahasiswa perempuan mencapai lebih dari separuh populasi mahasiswa di perguruan tinggi. Pada tahun 1970, jumlahnya kurang dari setengah. Terdapat mahasiswa yang juga lebih tua sebesar -40% mahasiswa lebih tua dari 25 tahun, dibandingkan dengan 28% pada tahun sebelumnya.

8 Mahasiswa Sekarang Lebih Banyak Tekanan

Dari 2005 hingga 2015, proporsi mahasiswa baru yang mengatakan “kadang-kadang atau sering merasa kewalahan”, meningkat 10%.

Presiden Asosiasi untuk Universitas dan Direktur Pusat Konseling Perguruan Tinggi pada tahun 2011, Denise Hayes, mengatakan bahwa hal ini dapat dikaitkan dengan tekanan keuangan dan stres untuk mencapai sebuah keberhasilan.



Mungkin ini karena generasi milenial lebih menyeimbangkan kerja part time daripada pekerjaan sekolah. Menurut sebuah studi oleh Pusat Pendidikan dan Tenaga Kerja di Georgetown University, 70% hingga 80% mahasiswa memiliki pekerjaan saat berkuliah, -40% dari mereka bekerja lebih dari 30 jam seminggu, melebihi batas 15 jam seminggu mereka harus mempertahankan tanpa mengganggu nilai akademis mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here